بسم الله الرحمن الرحيم
bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi
           "Dengan menyebut nama Allah
         Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"

Walimatul ‘Urs (Pesta Perkawinan)

 
Walimah  asalnya  berarti  sempurnanya  sesuatu  dan berkumpulnya  sesuatu.  Dikatakan    (Awlamar Rajulu)  jika  terkumpul  padanya  akhlak  dan kecerdasannya.  Kemudian  makna  ini  dipakai  untuk penamaan  acara  makan-makan  dalam    resepsi pernikahan  disebabkan  berkumpulnya  mempelai  laki-laki  dan  perempuan  dalam  ikatan  perkawinan.  Dan tidak  dinamakan  walimah  untuk  selain  resepsi pernikahan  dari  segi  bahasa  dan  istilah  fuqoha  (para ulama).


Padahal ada banyak jenis acara makan-makan  yang  dibuat  dengan  sebab-sebab  tertentu,  tetapi masing-masing memiliki penamaan tersendiri.
Hukum walimatul  ‘urs adalah sunnah menurut jumhur ulama.  Sebagian  ulama  mewajibkan  walimah  karena adanya  perintah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan  wajibnya  memenuhi  undangan  walimah. 

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abdurrahman  bin  ‘Auf  radiyallahu  ‘anhu  ketika  dia mengkhabarkan bahwa dia telah menikah 
 
“Adakanlah  walimah  walaupun  hanya  dengan menyembelih  seekor  kambing”  (HR.  Bukhari  dan Muslim).
  
Dan juga Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan walimah ketika menikah dengan Zainab, Sofiyyah, dan Maimunah binti Al-Harits.  Mengenai  ukuran  atau  kadar  dari  pesta  perkawinan,  sebagian  ahli  ilmu  berperdapat  bahwa  tidak  kurang dari  satu  ekor kambing  dan  yang lebih  utama  adalah lebih  dari  itu. 

Seperti  yang  difahami  dari  hadits Abdurrahman  bin  ‘Auf  di  atas:  “Adakanlah  walimah walaupun  hanya  dengan  menyembelih  seekor kambing”  (HR.  Bukhari  dan  Muslim).    Dan  ini  jika diberi kelebihan  rezeki oleh Allah kepadanya. Dan jika tidak  mampu  maka  sesuai  dengan  kadar kemampuannya.  Rasulullah  juga  mengadakan walimah  ketika  menikah dengan Sofiyyah berupa makanan khais  yaitu tepung, mentega dan keju yang dicampur kemudian diletakkan diatas  nampan.  Hal  ini  menunjukkan  bolehnya mengadakan  walimah  tanpa  menyembelih  kambing
dan  juga  boleh  mengadakannya  walaupun  dengan yang lebih sederhana dari itu.  

Tidak  boleh  berlebih-lebihan  (isrof)  dalam  walimatul ‘urs  seperti  yang  terjadi  pada  zaman  sekarang, misalnya  dengan  menyembelih  banyak  kambing,  unta dan  meyediakan  banyak  makanan  untuk  bermewah-mewahan  dan  berlebih-lebihan  padahal  tidak termakan  semuanya,  akhirnya  makanan-makanan tersebut   dibuang  di  tempat-tempat   sampah.  Ini termasuk hal yang dilarang oleh syari’at dan akal yang sehat  tidak  akan  pernah  membolehkan  hal  tersebut. Dan  dikhawatirkan  bagi  pelakunya  dan  orang  yang setuju  dengan  perbuatan  tersebut  akan  mendapat
hukuman dari Allah dan dicabutnya nikmat. 

Disamping hal itu,  walimah  yang seperti  di  atas  tidak lepas  dari  kejelekan  dan  kesombongan  serta berkumpulnya  orang-orang  yang  biasanya  tidak lepas dari kemungkaran. Terkadang walimah ini dilakukan di hotel-hotel  yang  menyebabkan  para  wanita  tidak menghiraukan  lagi  pakaian  yan  menutup  aurat, hilangnya  rasa  malu,  bercampurnya  wanita  dengan laki-laki  yang  bisa  jadi  hal  ini  sebagai  penyebab turunnya azab yang besar dari Allah. Terkadang  juga  diselingi  dalam  pesta  tersebut  musik dan nyanyian yang menyenangkan para seniman, juga fotografer  untuk  memotret  para  wanita  dan  kedua mempelai,  disamping  menghabiskan  harta  yang banyak  tanpa  faedah bahkan dengan  cara  yang  rusak
dan  menyebabkan  kerusakan.  Maka  bertaqwalah kepada  Allah  wahai  orang-orang  yang  seperti  ini  dan takutlah t erhadap azab Allah.
Allah berfirman:
 
“Dan berapa banyaknya (penduduk)  negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya” (QS. Al-Qoshosh: 58)
 
“Makan  dan  minumlah,  dan  janganlah  berlebih-lebihan.  Sesungguhnya  Allah  tidak  menyukai  orang-orang yang berlebih-lebihan” (Al-A’rof: 31)
 
 “Makan  dan  minumlah  rezeki  (yang  diberikan)  Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan” (Al-Baqoroh: 60) 


Dan  ayat-ayat  yang  berkaitan  dengan  ini  sangat  banyak dan jelas. 


Wajib bagi yang diundang untuk menghadiri walimatul ‘urs apabila terpenuhi syarat-syarat berikut ini:
1.  Walimah  tersebut  adalah  walimah  yang  pertama jika  walimahnya dilakukan  berulangkali.  Dan  tidak wajib  datang  untuk  walimah  yang  selanjutnya, berdasarkan  sabda  Nabi  sallallahu  ‘alaihi  wa sallam:
 
“Walimah  pertama  adalah  hak  (sesuai  dengan syari’at ,  pent),  walimah  kedua  adalah  baik,  dan walimah yang ketiga adalah riya’ dan sum’ah” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya). 

Syaikh  Taqiyuddin  berkata:  “Diharamkan  makan dan  menyembelih  yang  melebihi  batas  pada  hari berikutnya  meskipun  sudah  menjadi  kebiasaan masyarakat  atau  untuk  membahagiakan keluarganya,  dan  pelakunya  harus  diberi hukuman”
2.  Yang mengundang adalah seorang muslim
3.  Yang  mengundang  bukan  termasuk  ahli  maksiat yang terang-terangan melakukan kemaksiatannya, yang mereka itu wajib dijauhi.
 
4.  Undangannya  tertuju  kepadanya  secara  khusus, bukan undangan umum. 
5.  Tidak  ada  kemungkaran  dalam  walimah  tersebut seperti  adanya  khamr  (minuman  keras),  musik, nyanyian  dan  biduan,  seperti  yang  banyak  terjadi  dalam acara walimah sekarang. Apabila  terpenuhi  syarat-syarat  tersebut,  maka  wajib memenuhi  undangan  walimah,  sebagaimana  sabda

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam :
 
“Sejelek-jelek  makanan  adalah  hidangan  walimah yang orang-orang miskin tidak diundang tetapi orang-orang  yang  kaya  diundang.  (Meskipun  demikian) barangsiapa  yang tidak  memenuhi  undangan  walimah berarti dia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Muslim).
Dan  disunnahkan  untuk  mengumumkan  pernikahan dan  menampakkannya sebagaimana  sabda  Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Umumkanlah  acara  pernikahan”.  Dan  dalam  riwayat lain:  “Tampakkanlah  acara  pernikahan”  (HR.  Ibnu Majah)

 
Disunnahkan  pula  menabuh  rebana  sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: 
 
“Pembeda antara nyanyian serta musik yang halal dan yang  haram adalah nyanyian dan  rebana dalam acara pernikahan”  (HR.  Nasa’i,  Ahmad  dan  Tirmidzi.  Dan Tirmidzi menghasankannya).


Disadur dari BUku Bekal-Bekal Pernikahan
http://dear.to/abusalma
Karya : Maktabah Abu Salma al-Atsari

Last Updated on Monday, 18 January 2010 03:00

Add comment


Security code
Refresh

Walimatul Ursy


Komentar Terakhir

  • terima kasih banyak untuk kumpulan doa-nya ..
    18.10.13 14:18
  • alangkah baiknya jika file ini di buat dalam bentu...
    09.11.12 02:32
  • a
    22.10.12 12:49
  • a
    05.09.12 05:34
  • bagaimana bacaan kalau menikah hanya berdua saja
    05.09.12 01:52