بسم الله الرحمن الرحيم
bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi
           "Dengan menyebut nama Allah
         Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"

Akad Nikah, Rukun dan Sy arat-Syaratnya

 
Disunnahkan  ketika  hendak  akad  nikah,  memulai dengan  khutbah  sebelumnya  yang  disebut  khutbah Ibnu  Mas’ud  (khutbatul  hajjah,  pent)  yang disampaikan oleh calon mempelai pria atau  orang  lain diantara para hadirin. Dan lafadznya sebagai berikut :
 
“Sesungguhnya  segala  puji  bagi  Allah.  Kami  memuji-Nya,  memohon  pertolongan  dan  ampunan-Nya,  serta kami berlindung kepada  Allah dari kejahat an diri kami dan  keburukan  amal  usaha  kami.  Barangsiapa  yang diberi petunjuk oleh Allah, maka  tidak  ada yang dapat menyesatkannya  dan  barangsiapa  yang  disesatkan oleh  Allah,  maka  tidak  ada  yang  dapat  memberinya petunjuk.  Aku  bersaksi  bahwa  tidak  yang    berhak
diibadahi  melainkan  Allah  semata,  tiada  sekutu  bagi-Nya,  dan  aku  bersaksi  bahwa  Muhammad  adalah hamba  dan  utusan-Nya”.  (HR.  Imam  yang  lima  dan Tirmidzi menghasankan hadits ini). 

Setelah itu membaca tiga ayat Al-Qur’an berikut ini: 
 
“Hai  orang-orang  yang  beriman,  bert aqwalah  kepada Allah  dengan  sebenar-benarnya  taqwa  kepada-Nya, dan  janganlah  sekali-kali kamu  mati  melainkan  dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali ‘Imran: 102).
 
“Hai  sekalian  manusia  bertakwalah  kepada  Rabb-mu yang telah mencipt akan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah  menciptakan  istrinya,  dan  daripada keduanya  Allah  mengembangbiakkan  laki-laki  dan perempuan  yang  banyak.  Dan  bertakwalah  kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling  meminta  satu  sama  lain,  dan  (peliharalah) hubungan  silaturahim.  Sesungguhnya  Allah  selalu
menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisaa’: 1)  


“Hai  orang-orang  yang  beriman,  bertakwalah  kamu kepada  Allah  dan  katakanlah  perkataan  yang  benar,   niscaya  Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan  mengampuni  bagimu  dosa-dosamu.  Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya  ia  telah  mendapat   kemenangan  yang besar”. (QS. Al-Ahzab: 70-71). 


Adapun rukun-rukun akad nikah ada 3, yaitu:

  1. Adanya  2  calon  pengantin  yang  terbebas  dari penghalang-penghalang  sahnya  nikah,  misalnya: wanita  tersebut  bukan  termasuk  orang  yang diharamkan  untuk  dinikahi  (mahram)  baik  karena senasab,  sepersusuan  atau  karena  sedang  dalam masa ‘iddah, at au sebab lain. Juga tidak boleh  jika calon  mempelai  laki-lakinya  kafir  sedangkan mempelai  wanita  seorang  muslimah.  Dan  sebab-sebab lain dari penghalang-penghalang syar’i.
  2. Adanya  ijab  yaitu  lafadz  yang diucapkan  oleh  wali atau  yang  menggantikannya  dengan  mengatakan kepada calon mempelai pria: “Saya nikahkan kamu dengan Fulanah”.
  3. Adanya  qobul  yaitu  lafadz  yang  diucapkan  oleh calon  mempelai  pria  atau  orang  yang  telah  diberi ijin  untuk  mewakilinya  dengan  mengucapkan  : “Saya t erima nikahnya”. Syaikhul islam  Ibnu  Taymiah dan  muridnya,  Ibnul Qoyyim,  menguatkan  pendapat  bahwa  nikah  itu  sah dengan  segala  lafadz  yang  menunjukkan  arti  nikah, tidak  terbatas  hanya  dengan  lafadz  Ankahtuka  atau
    Jawwaztuka.  Orang  yang  membatasi  lafadz  nikah  dengan Ankahtuka  atau  Jawwaztuka  karena  dua  lafadz  ini terdapat  dalam  Al  Qur’an.  Sebagaimana  firman  Allah Ta’ala:

“Maka  tatkala  Zaid  telah  mengakhiri  keperluan terhadap  istrinya  (menceraikannya),  Kami  kawinkan kamu dengan dia” (QS. Al-Ahzab: 37) 

Dan firman-Nya yang lain:
 
“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu” (QS. An-Nisa’:22) 

Akan  tetapi  kejadian  yang  disebutkan  dalam  ayat tersebut   tidak  berarti  pembatasan  dengan  lafadz tersebut  (tazwij atau nikah). Wallahu a’lam. Dan akad nikah  bagi  orang  yang  bisu  bisa  dengan  tulisan  atau isyarat  yang  dapat   difahami.  Apabila  terjadi  ijab  dan
qobul,  maka  sah-lah  akad  nikah  tersebut  walaupun diucapkan  dengan  senda  gurau  tanpa  bermaksud menikah  (Jika  terpenuhi  syarat  dan  tidak  ada penghalang  sah-nya  akad,  pent). 

Karena  Rasulullah sallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda: “Ada 3  hal yang apabila  dilakukan  dengan  main-main  maka  jadinya
sungguhan  dan  jika  dilakukan  dengan  sungguh-sungguh  maka  jadinya  pun  sungguhan. 

Yaitu:    talak, nikah dan ruju’” (HR. Tirmidzi, no. 1184). 


Adapun syarat -syarat  sahnya nikah ada 4, yaitu:

  1. Menyebutkan  secara  jelas  (ta’yin)  masing-masing kedua  mempelai  dan  tidak  cukup  hanya mengatakan:  “Saya  nikahkan  kamu  dengan  anak saya”  apabila  mempunyai  lebih  dari  satu  anak perempuan.  Atau  dengan  mengatakan:  “  Saya nikahkan  anak perempuan  saya dengan anak  laki- laki  anda”  padahal  ada  lebih  dari  satu  anak  laki-lakinya.  Ta’yin  bisa  dilakukan  dengan  menunjuk langsung  kepada  calon  mempelai,  atau menyebutkan namanya, atau sifatnya yang dengan sifat itu bisa dibedakan dengan yang lainnya. 
  2. Kerelaan  kedua  calon  mempelai.  Maka  tidak  sah jika  salah  satu  dari  keduanya  dipaksa  untuk menikah,  sebagaimana  hadit s  Abu  Hurairah: “Janda tidak boleh dinikahkan sehingga dia diminta perintahnya,  dan  gadis  tidak  dinikahkan  sehingga diminta  ijinnya.”  Mereka  bert anya:  “Wahai Rasulullah, bagaimana ijinnya?”. Beliau menjawab: “Bila ia diam”. (HR. Bukhari dan Muslim). Kecuali  jika  mempelai  wanita  masih  kecil  yang belum  baligh  maka  walinya  boleh menikahkan dia tanpa seijinnya.
  3. Yang  menikahkan  mempelai  wanita  adalah walinya.  Berdasarkan  sabda  Rasulullah  sallallahu ‘alaihi  wa  sallam:  “Tidak  sah  pernikahan  kecuali dengan adanya wali” (HR. Imam yang lima kecuali Nasa’i).  Apabila seorang wanita menikahkan dirinya sendiri tanpa  wali  maka  nikahnya  tidak  sah.  Di  antara hikmahnya,  karena  hal  itu  merupakan  penyebab terjadinya perzinahan dan wanit a biasanya dangkal dalam  berfikir  untuk  memilih  sesuatu  yang  paling maslahat  bagi  dirinya.  Sebagaimana  firman  Allah dalam  Al-Qur’an  t entang  masalah  pernikahan,
    ditujukan kepada para wali:

 
“Dan  kawinkanlah  orang-orang  yang  sendirian  di antara kamu” (QS. An-Nuur: 32)
 
“Maka  janganlah  kamu  (para  wali)  menghalangi mereka” (QS. Al-Baqoroh: 232) 


dan ayat-ayat yang lainnya. 

Wali  bagi  wanita  adalah:  bapaknya,  kemudian yang diserahi tugas oleh bapaknya, k emudian ayah dari  bapak terus  ke atas, kemudian anaknya yang laki-laki  kemudian  cucu  laki-laki  dari  anak  laki-lakinya  terus  ke  bawah,  lalu  saudara  laki-laki sekandung,  kemudian  saudara  laki-laki  sebapak, kemudian keponakan laki-laki dari saudara laki-laki sekandung  kemudian  sebapak,  lalu  pamannya
yang  sekandung  dengan  bapaknya,  kemudian pamannya  yang  sebapak  dengan  bapaknya, kemudian  anaknya  paman,  lalu  kerabat-kerabat  yang  dekat keturunan nasabnya seperti ahli  waris, kemudian  orang  yang  memerdekakannya  (jika dulu  ia  seorang  budak,  pent),  kemudian  baru hakim sebagai walinya. 


4.  Adanya  saksi  dalam  akad  nikah,  sebagaimana hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir:
"Tidak  sah  suatu  pernikahan  t anpa  seorang  wali dan  dua  orang  saksi  yang  adil  (baik  agamanya, pent)." (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557).  

Maka tidak  sah  pernikahan kecuali  dengan adanya dua orang saksi yang adil. 


Imam Tirmidzi  berkata: “Itulah  yang difahami oleh para  sahabat  Nabi  dan  para  Tabi’in,  dan  para ulama setelah mereka. Mereka berkata: “Tidak sah menikah  tanpa  ada  saksi”.  Dan  tidak  ada perselisihan  dalam  masalah  ini  diantara  mereka. Kecuali  dari  kalangan  ahlu  ilmi  Mut a’akhirin (belakangan)”.

Disadur dari BUku Bekal-Bekal Pernikahan
http://dear.to/abusalma
Karya : Maktabah Abu Salma al-Atsari

Last Updated on Monday, 18 January 2010 03:01

Comments  

 
0 #3 joni 2012-09-05 01:52
bagaimana bacaan kalau menikah hanya berdua saja
Quote
 
 
+2 #2 2012-05-28 08:32
Asalamualaikm.
Klo wali nikah saya(perempuan) ayah tiri saya sah g?
Krna wali kndung saya mnnggal,dan ibu saya dlu mnikah dgn ayah kndung saya nikah siri,tapi smua akte saya bratas nma kan ayah saya yg skrg,apkah sah klo wali saya ayah tiri saya yg ngasuh saya sejak kecil?
Quote
 
 
0 #1 2010-05-19 16:42
wali hakim pada akad nikah adik saya salah mengucapkan nama saat ijab. yang seharusnya kuma menjadi kusuma. bagaimana situasi ini menurut syarat sah nikah.terima kasih
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Walimatul Ursy


Komentar Terakhir

  • terima kasih banyak untuk kumpulan doa-nya ..
    18.10.13 14:18
  • alangkah baiknya jika file ini di buat dalam bentu...
    09.11.12 02:32
  • a
    22.10.12 12:49
  • a
    05.09.12 05:34
  • bagaimana bacaan kalau menikah hanya berdua saja
    05.09.12 01:52